Cerita Dewasa Keluar Di Memek Becek Tante

Cerita Dewasa Keluar Di Memek Becek TantePerkenalkan namaku Hajack biasa kalau dipanggil si Jack, aku dari keluarga yang tidak mampu aku anak petama dari 5 bersaudara, aku ikut ibu ku dia mempunyai kulit putih seperti akum dengan tinggi badanku 179 cm.
Wajahku indo gak tau kenapa aku juga bingung padahal bapakku asli jawa Indonesia dan ibu juga, sejarah ibu ternyata dia pernah menjadi TKI di USA sebagai pembantu rumah tangga, waktu itu dia memnjadi baby sister unutk majikanya, seingkat cerita ibuku hamper 2 tahun tinggal disana dimana pernah diperkosa oleh orang bule.
Karena trauma ibuku langsung pulang keindonesia dan menikah dengan ayahku itulah sejarah kenapa aku kayak orang indo/bule. Okey sorry terlalu panjang pendahuluannya, kita langsung saja ke ceritanya. Kejadian ini bermula dimana saya memiliki pacar yang sangat cemburu dan sayang sama saya, maka saya dianjurkan mengontrak rumah di rumah tantenya yang tentunya berdekatan dengan rumahnya.

Cerita Sex Tante
Saya bekerja di salah satu perusahaan Asing yang berkecimpung di Akuntan Public yang terkenal dan ternama, maka saya mendapatkan uang yang secukupnya untuk membiayai adik saya 5 orang yang sedang kuliah di Jakarta.
Dan untung saja 3 orang masuk UI dan 2 orang masuk IPB, maka dengan mudah saya bayar uang semesterannya. Sedangkan saya sendiri hanya membutuhkan uang makan dan ongkos, dimana saya tinggal di kawasan Bogor yang terkenal dengan hujannya.
Setelah dua tahun saya mengontrak di rumah yang sampai sekarang juga masih saya tempati, terjadilah kejadian ini. Dimana waktu itu kelima adik saya pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan saya yang kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka tinggallah saya seorang diri di Jakarta.
Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Boyke atau suami Tante Githa ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia adalah pegawai swasta dan sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di perminyakan di lepas pantai. Jadi waktu itu Om Boyke ke lapangan dan tinggallah Tante Githa sendirian di rumah.
Tante Githa telah menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak hampir sudah 8 tahun, dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah, Tante Githa apa Om Boyke. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di Bogor begitu derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas. Secara otomatis saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.
Tiba-tiba Tante Githa memanggil, “Jack.. Jack.. Jack.. tolong dong..!”
Saya menyahut panggilannya, “Ada apaan Tante..?”
“Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!”
Lalu saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara supaya hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante Githa.Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi ruang makan.
Terus Tante Githa menawarkan saya minum kopi, “Nih.., biar hangat..!”
Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.
Saya jawab, “Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah..” sambil saya melangkah ke rumah samping.
Saya mengontrak rumah petak Tante Githa persis di samping rumahnya.
Tidak berapa lama saya kembali ke rumah Tante Githa dengan mengenakan celana pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti baju tadi, Tante Githa juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur yang seksi dan sangat menggiurkan.
Tapi saya berusaha membuang pikiran kotor dari otak saya. Tante Githa menawarkan saya duduk sambil melangkah ke dapur mengambilkan kopi kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante Githa sudah kembali dengan secngkir kopi di tangannya.
Sewaktu Tante Githa meletakkan gelas ke meja persis di depan saya, tidak sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan, dan dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap pada diri saya.
Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya berusaha secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang melanda diri saya.
Tante Githa memulai pembicaraan, “Giman Jack..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante.”
“Ah.. nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya kan ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa salahnya menolong orang yang memerlukan pertolongan kita.” kata saya mencoba memberikan penjelasan.
“Omong-omong Jack, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,”
“Rupanya Tante Githa tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana.”
“Oh.. jadi kamu sendiri dong di rumah..?”
“Iya Tante..” jawab saya dengan santai.
Terus saya tanya, “Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?”
“Itu dia Jack, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya baru lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di rumah, jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah anaknya di Bandung.” jelasnya.
Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah jam 23.00 wib malam, tapi rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante Githa sudah mulai menguap, tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan Film di televisi pada saat itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam Sabtu enak siarannya, biasanya juga tidak.
Tante Githa tidak kedengaran lagi suaranya, dan rupanya dia sudah ketiduran di sofa dengan kondisi pada saat itu dia tepat satu sofa dengan saya persis di samping saya.
Sudah setengah jam lebih kurang Tante Githa ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.
“Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Githa sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?” kata saya dalam hati.
Tiba-tiba saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat. Dimana Tante Githa dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan agak selonjoran sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan terlihat warna celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan mata. Hal ini membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya tetap berusaha menenangkan pikiran saya.
Akhirnya, dari pada saya semakin lama disini semaking tidak terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante Githa biar saya permisi pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk membangunkan Tante Githa untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang pundaknya.
“Tan.. Tan..”
Dengan bermalas-malas Tante Githa mulai terbangun. Karena saya dengan posisi duduk persis di sampingnya, otomatis Tante Githa menyandar ke bahu saya. Dengan perasaan yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Dengan usaha sekali lagi saya bangunkan Tante Githa.
“Tan.. Tan..”
Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Githa bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.
“Aduh gimana ini..?” gumam saya dalam hati, “Gimana nantinya ini..?”
Entah setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya sudah berani membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan bahunya, dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang dengan sedikit menyenggol buah dadanya.
Aduh.., adik saya langsung lancang depan. Dengan tegangan tinggi, nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit keberanian yang tinggi, saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium sejenak bau harum mulutnya.
Pelan-pelan saya tempelkan dengan gemetaran bibir saya, tapi anehnya Tante Githa tidak bereaksi apa-apa, entah menolak atau menerima. Dengan sedikit keberanian lagi, saya julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan sedikit mendesah, Tante Githa mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi entah kenapa bukannya saya ketakutan malah keluar pujian.
“Tante Githa cantik udah ngantuk ya..? Mmuahh..!” saya kecup bibirnya dengan lembut.
Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.
Tante Githa membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.
“Ahk.. ahk..!” dengan sedikit tergesa-gesa Tante Githa sudah menarik celana saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi kepala penis saya.
“Ahkk.. ah..!” nikmatnya tidak tergambarkan, “Ahkk..!”
Saya pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke atas. Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Githa sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya ciumi gunung vaginanya, terus mencari klistorisnya.
“Akh.. akh.. hus..!” desahnya.
Tante Githa sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.
30 menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benang pun yang lengket di badan kami.
Tanpa saya perintah, Tante Githa merenggangkan pahanya lebar-lebar, dan langsung saya ambil posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya. Dengan sedikit gemetaran, saya arahkan batang kemaluan saya dengan mengelus-elus di bibir vaginanya.
“Akh.. huss.. ahk..!” sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.
“Akh.. akh..!” dengan sedikit dorongan, “Bless.. ss..!” masuk semuanya batang kejantanan saya.
Setelah saya diamkan semenit, secara langsung Tante Githa menggoyang-goyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah lagi, saya maju-mundurkan batang kemaluan saya.
“Akh.. uh.. terus Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin Tante..? Akh.. blesset.. plup.. kcok.. ckock.. plup.. blesset.. akh.. aduh Tante mau keluar nih..!”
“Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!”
Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.
Sudah 15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis saya sudah mulai terasa gatal, dan Tante Githa teriak, “Akh..!”
Bersamaan kami meledak, “Crot.. crot.. crot..!” begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.
Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.
Tante Githa kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana Tante Githa langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis saya belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung Tante Githa mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir vaginanya.
“Akh.. huss..!” seperti kepedasan Tante Githa dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.
“Blesset.. crup.. crup.. clup.. clopp..!” suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.
30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Githa orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.
“Crot.., crot..!” meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak lepas-lepasnya Tante Githa masih menggoyang pantatnya dengan teriakan kencang, “Akh..!”
Kemudian Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa kenikmatan dengan batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya dengan posisi miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas, seakan-akan Tante Githa tidak mau melepaskan penis saya dari dalam vaginanya. Begitulah malam itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.
Jam 5 pagi saya ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan tertidur akibat keGithahan satu malam kerja berat. Begitulah kami melakukan hampir setiap malam sampai Om itu pulang dari kerjanya.
Dan sepulangnya adik saya dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi dengan leluasa bercinta. Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam dua hari itu pun kami lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan dapurnya yang ada jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di rumah sebelahnya.
3 bulan kemudian Tante Githa hamil dan sangat senang. Semua keluarganya memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi entah kenapa, Tante Githa tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami. END
Continue Reading | komentar

Cerita Dewasa – Ujung Lidahnya Bergetar Di Kemaluanku

Cerita Dewasa – Ujung Lidahnya Bergetar Di KemaluankuKira-kira jam 19.30 aku dijemput pertama sebab mobil masih kosong, kemudian jemputan kedua di Jl.Radio Dalam disebuah kantor seorang cewek kira umur 25 th kelihatan masih pakaian kantor yaitu baju model jas warna biru dengan kaos putih didalamnya dan rok bawahan warna biru juga. Cewek itu duduk dideretan bangku belakang no 7 jadi sebalah saya. Warna kulitnya agak coklat dan wajahnya biasa saja hanya yang menarik perhatian bibirnya yang agak tebal dan basah itu yang menggairahkan bagiku.


cerita sex janda
Kemudian sopir menjemput lagi 2 orang rupanya pembantu rumah tangga duduk disebelah sopir, lalu 2 orang lagi yang seorang ibu-ibu agak tua dengan cucunya mungkin. Si Ibu duduk dideretan tengah sedang cucunya dibelakang sebelah cewek tadi, karena menurut sopir tempat duduk deretan tengah yang 2 orang sudah dipesan untuk suami istri dari Bekasi nanti.
Dalam perjalanan keluar jakarta menuju Bekasi sicewek menyapaku:
“Mau kemana koh?”.
“Oh, ke Semarang dan adik mau kemana? jawabku.
“Saya mau pulang ke Salatiga” sahutnya.
“Adik asli Salatiga dan cuti pulang kampung ya” tanyaku.
“Saya tidak cuti, tapi minta ijin sebab anak saya sakit dan masuk R.S di Salatiga” sahutnya.
“Oya, sakit apa?” tanyaku.
“Katanya ibu sebab anak saya ikut ibu saya sakitnya muntah dan berak jadi sampai diinfus segala”.
“Suami adik nggak ikut?” tanyaku lagi.
Dia menggelengkan kepala, lalu bercerita demikian : Dia aslinya asal desa Tutang dekat Salatiga. Namanya Harwati tapi panggilan akrabnya Wati. Org tuanya petani. Ia hanya lulusan SMEA jurusan akutansi saat umur 20 th. Setelah kerja ditoko Salatiga 2 th lalu menikah dengan seorang pemuda yang usianya 1 th lebih muda juga kerja diperusahaan tekstil besar di Salatiga.
Baru 2 th menikah dan saat ia hamil 6 bulan, suaminya kena masalah keuangan diperusahaan dan harus urusan dengan polisi segala dan dipecat dari pabrik textilnya. Karena itu suaminya sangat malu untuk tinggal didesanya sebab keluarganya kebanyakan orang-orang yang taat beragama. Sebab itu suaminya tak mau lagi tinggal didesa dan pergi merantau ke Jakarta dengan bekal uang hasil penjualan gelangnya Wati dan akan tinggal ditempat yang masih ada hubungan saudara di Tanjun Priok.
Tapi sejak berangkat sampai saat ini suaminya tak pernah memberi kabar maupun kirim uang untuk Wati yang tinggal didesa. Padahal saatnya melahirkan sudah tiba juga suami tak ada kabar, akhirnya segala perhiasan yang ia punya dijual untuk biaya kelahiran putrinya dan membiayainya sampai putrinya berusia 6 bulan. Wati menceritakan dirinya itu dengan serius dan dengan nada yang penuh haru sampai air matanya kulihat mengalir dipipinya. Aku pun jadi ikut terharu. Air matanya diusap dengan tangannya, aku jadi ikut diliputi dengan penuh keharuan juga lalu tangannya yang basah dengan air mata itu aku pegang erat-erat. Wati tak bereaksi dan membiarkannya.
“Sekarang anak saya sakit lagi dan menurut ibu biaya untuk menebus R.S sekitar 300.000 rph, pada hal tabungan saya pas tinggal 250.000,-. Saya mau pinjam kantor lagi sulit sebab bos nya juga lagi sakit dirumah sakit” ceritanya sambil terus air matanya jatuh ketanganku.
Keharuanku membuat aku mengambil keputusan untuk ikut memberi bantuan pd Wati, aku berbisik:
“Dik Wati, memang berat rasanya buat Wati, saya saat ini masih ada uang tersisa sedikit dalam dompet mungkin dik Wati mau menrimanya” sambil aku membuka dompet dan aku menghitungnya ternyata masih ada 170.000 rph dengan menyisakan 20.000 rph uang yang 150.000 rph kuambil dan kuserahkan dalam genggaman tangannya Wati.
“Koh, Wati pinjam ya , nanti Wati angsur tiap bulannya” katanya.
“Wati mau angsur kemana, saya tinggal di Smg dan Wati di Jkt, jadi uang itu pakai saja untuk meringankan eban dik Wati”kataku.
“Terima kasih sekali koh, koko belum mengenal Wati tapi sudah begitu besar budinya menolong Wati” katanya sambil duduknya merapat kelenganku dan kepalanya disandarkan dibahuku.
“Saya percaya kalau Wati bersungguh-sungguh tidak berbohong, jadi saya ikut terharu juga” sahuntuku.
“Koh bagaimana Wati harus membalasnya?. Apakah koko sering ke Jkt?”.
“Saya jarang ke Jkt”sahuntuku.
Lalu Wati menyimpan uang itu kedompetnya dan memberikan kartu nama kantornya padaku sambil pesan:
“Koh, ini nomor telpon kantorku, kalau koko ke Jkt lagi sendirian nanti kalau malam Wati mau menemaninya. Wati kost dikampung belakang kantor jadi jalan saja, tapi koko tak perlu ke kost sebab kostnya jelek lagi tak ada nomor rumahnya serta kompleknya memang orang-orang taat agama”. Mendengar ucapan Wati itu hatiku merasa greng walaupun Wati tak cantik tapi bibirnya menggairahkan dan saya yakin pasti isapannya enak, selain itu tampaknya buah dadanya juga cukup besar yang menjadi kesukaan saya. seksigo
Lengannya yang berhimpitan dengan lengan saya ku-pijit-pijit dr bawah ketiak sampai telapak tangannya, Wati diam saja malah wajahnya di-usap2kan kebahuku. Saat itu travel sampai di Bekasi dan menjemput 2 penumpang terakhir, ternyata kedua suami istri itubatal berangkat sebab istrinya mendadak sakit muntah-muntah. Karena kedua kursi tengah kosong maka sicucu itu pindah duduk disebelah eyangnya.Walaupun tempat duduknya sudah kosong satu, tapi Wati tetap duduk merapat terus ketubuhku.
Setelah mobil berjalan kembali dan Wati tetap merapat ketubuhku, tanganku kurangkulkan kelengannya dan kutarik tubuhnya makin erat ketubuhku dan Wati pun meresponsnya dengan merapatkan juga paha dan kakinya kepahaku dan kuberanikan untuk mengusap wajahnya yang masih basah sedikit dari sisa air mata. Wati diam dan merelakan aku melakukanitu semua.
Tanganku kucoba untuk membuktikan apakah benar-benar buah dadanya besar atau tidak sebab Wati pakai baju rangkap, maka tanganku kupindahkan kesela bawah ketiaknya dan tanganku kurabakan kesamping buah dadanya. Wati tahu perbuatanku itu,lalu ia malah agak merebahkan tubuhnya kepangkuanku dengan maksud agar tanganku bisameraba buah dadanya sebelah kiri.
Walapun masih pakai baju dan ada BH nya segala kucoba pegang-pegang ternyata memang buah dadanya cukup besar dan cukup merangsang nafsu sex ku. Karena Wati diam ganti tangan kananku yang bekerja kususupkan tangan kananku kedalam kaos dan bawah BH nya sehingga tanganku sekarang bisa meraba dan mengusap-usap buah dadanya yang masih cukup kencang itu dan putingnyanya juga terasa cukup besar. Karena buahdadanya yang kupegang-pegang itu rasanya makin hangat saja maka tanganku makin nakal, sekarang aku mulai remas-remas perlahan-lahan dan lama-lama agak keras.
Saat itu Wati lalu bangun dr rebahannya dan tanganku yang meremas dipegangnya lalu membisikiku:
“Koh jangan keras-keras kalau meremas buah dada Wati, sebab air susunya masih keluar banyak tadi Wati belum sempat memompanya keluar jadi nanti keluar semua kalau diremas”. Mendengar air susunya masih keluar banyak, nafsuku langsung makin naik karena minum air susu cewek itu kesukaaan khusus bagiku.
“Masak Wati banyak air susunya?” tanyaku.
“Betul sebab seharusnya anakku masih menyusu sebab sekarang kan baru berumur 1 th, saat saya tinggal umur 6 bl dan saya barubekerja 6 bulanini di Jkt. Jadi tiap kali penuh saya pompa untuk dibuang” cerita Wati.
“Waah Wati buang?” tanyaku.
“Iya koh, kalau tidak ya sakit sekali buah dadanya” jelas Wati.
“Pada hal ASI itu saya paling suka” kataku.
“Yang bener koh, mas suka ASI?” tanya Wati.
“Betul” sahuntuku dan Wati kemudian menjatuhkan kepalanya kebahuku lagi.
Baru beberapa saat lalu travel berhenti di satu rumah makan untuk makan malam. Setelah penumpang turun semua saya masuk kerumah makan dan Wati ikut dengan memegang tangan saya. Wati dan saya duduk disatu meja, tetpi Wati tak mau makan sebab sudah makan jadi kita berdua pesan kopisusu saja sambil ngobrol2.Lalu Wati bilang:
“Kalau koko memang suka ASI, nanti kalau mobil sudah jalan koko bisa minumnya”. Aku pura-pura nyahut:
“Dalam mobil apa nggak susah Wati?”.
“Yaaah nanti dicoba saja dan harus bisa, kan koko lihai dalam hal begituan ” katanya sambil ketawa.
Lalu Wati pamit sebentar untuk ketoilet sedang aku beli dodol dengan sisa uang dan masih dpt 4 dos, jadi 2 untuk rumah dan 2 biar untuk Wati. Karena Wati juga belum keluar dr toilet, maka aku tunggu dipintu. Tak lama Wati datang dengan membawa tas plastik hitam, aku sapa:
“Beli oleh-oleh ya?”.
“Nggak” sambil ketawa-tawa kecil.
“Ini saya beli dodol dan 2 dos untuk Wati, lalu itu bawa apa?” kataku.
Wati merapatkan tubuhnya ketubuhku dan berbisik:
” nanti dalam mobil Wati kasih tahu” sambil menggandeng aku untuk masuk kemobil.
Saat itu masih kosong penumpang baru kami bergua yang masuk, lalu Wati berkata:
“Katanya koko suka ASI, ini Wati sudah lepas BH nya supaya nanti mudah untuk meneteknya”. Aku jadi greng juga dengan kata-katanya Wati karena mobil masih kosong maka tanganku langsung merogoh kedalam baju kaonya dari arah perut dan ternyata benar sekali tanganku langsung bisa memegang buah dadanya yang hangat rasanya.
“Jangan diremas dulu koh nanti ASI nya muncrat keluar” kata Wati.
“Juga CD Wati sudah tak lepas koh” sambil menarik tanganku yang sebelah dan disusupkan kedalam roknya dan langsung saja tanganku meraba rambut yang agak keriting tapi agak kaku dan kuteruskan ternyata kemaluannya benar-benar sudah tanpa dilindungi CD.
Karena buah dadanya masih kencang penuh dengan ASI, maka sementara tanganku berkarya dulu didaerah kemaluannya dengan menggelitik itilnya dan menusuk-nusukan kedua jariku kelubang kemaluannya apalagi kesempatan blm ada penumpang lain. Hanya beberapa menit kupermainkan kemaluannya lubangnya sudah terasa mulai dibasahi oleh lendir, aku pikir Wati ini mestinya besar nafsunya. Pekerjaan tanganku terhenti saat semua penumpang mulai masuk mobil.
Begitu mobil mulai melaju ke Cirebon dan semua penumpang bersiap untuk tidur, maka akupun mengambil posisi tidur dengan kepala dipangkuannya Wati, sedang Wati membuka kancing jasnya seraya menaikkan kaos putihnya dan mengambil posisi tanganya berpegang pd sandaran kursi depannya dan tubuh serta kepalanya menunduk agar puting buah dadanya agak turun untuk dekat dengan muluntuku.
Dengan sedikit mengankat kepalaku putingnya kuisap dan buah dadanya mulai kuremas dan suuuur…suuuuur ASI nya mengucur keluar dan terus buah dadanya kuremas sampai ASI nya benar2 habis baru aku pindah kebuah dada sebelahnya yang kuremas-remas sampai benar-benar habis ASI nya. Dengan ASI dari kedua buah dadanya Wati itu aku benar-benar dibuat kenyang, rasa ASI nya manis dan asem-asem.
Setelah selesai menetek, Wati menutup buah dadanya dengan kaosnya lagi serta mengancingkan kemabli bajunya. Kemudian tanganku ganti operasi disela2 pahanya, itilnya ku-sentuh2 dan ku tekan-tekan terus dengan jaruku sambil lubang kemaluannya ku-tusuk juga dengan dua jariku.
Rupanya Wati juga bernafsu tangannya langsung menggosok terus kemaluanku walaupun masih dalam celana, lama-lama tangannya membuka retsluiting dan kancing celanaku dan tangan menyusup dalam celana terus kebalik celana dalamku dan merogoh kemaluan yang sudah mulai tegang untuk ditongolkan keluar celana dan terus dikocok sampai tegang sekali. Wati berbisik pelan-pelan:
“Koh, Wati tak naik diatas kemaluanya, tapi koko diam saja jangan goyang-goyang ya?”. Lalu kepalaku dilepas dari pangkuannya lal dengan hati-hati dan pelan-pelan supaya penumpang lain tak mendengar Wati pindah tempat dan duduk diatas kemaluanku.
Karena lubangnya Wati sudah basah maka dengan mudah kemaluanku melesat masuk kedalamnya. Setelah masuk kulihat Wati diam dan tangannya mulai mengosok itilnya sendiri. Setelah beberapa saat kemaluanku mulai merasakan nyut..nyut dari didnding kemaluannya Wati. Lama-lama denyutan itu mulai berirama dan berjalan dari mulai kepala kemaluanku turun kebawah lalu mulai balik dari bawah keatas dan denyutannya makin lama makin terasa keras dan cepat, sungguh-sungguh luar biasa rasa nikmatnya. Aku belum pernah menemukan dan merasakan nyut nyut lubang kemaluan wanita yang semacam ini.
Jadi kemaluanku seperti dikocok, kulit kemaluan seakan ditekan kepangkalnya kemudian ditarik lagi keatas tapi dengan denyutan kemaluannya. Benar-benar luar biasa hingga maniku tak dpt kutahan terlalu lama yang akhirnya nyemprot kedlam lubang kemaluannya Wati. Walaupun sudah nyemprot kemaluaku masih dienyut terus oleh kemaluannya hingga rasanya geli sekali.
Baru setelah beberapa saat denyutnya mulai mengendor dan dikeluarkannya batang kemaluanku dr lubang kelaminnya.Lalu kemaluanku dibersihkan dengan sapu tangannya setelah itu baru aku duduk tegak lagi danWati duduknya merapat ketubuhku sambi tanya pelan-pelan:
“Enak koh?”.
“Terus terang baru sekali ini aku merasakan yang spt punya mu Wati” sahuntuku.
Wati berkata:
” Koh, kamu adalah laki-laki ketigayang pernah menjamah bagian-bagian terlarang dari tubuhku dan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku serta menyemprotkan maninya, laki-lki pertama adalah suamiku, yang kedua adalah bosku dan yang ketiga adalah koko”. Wati bercerita, saat masih masa percobaan dulu suatu saat ketika lembur dia diminta masuk kekamar bosnya dan bosnya minta dipijit punggungnya karena sakit sekali.
Saat itu dia bingung tapi karena nanti tak lolos masa percobaan dia mau melakukannya. Saat dia mijit tangannya bos mulai berkeliaran meraba paha kiri kanan dan terus kedaerah terlarangnya, bahkan tangannya terus melorotkan CD nya. Saat itu bosnya langsung minta dilayani nafsu sexnya. Ketika dia bilang katanya bos sakit, maka si bos minta Wati yang diatas seperti yang tadi dilakukan pada saya.
Semenjak bosnya merasakan itu selanjutnya hampir setiap minggu bosnya minta terus kenikmatan yang diberikan Wati itu dan Wati mengakui dengan memberikan pelayananya itu dia bisa mendapat hasil yang lebih sekitar 200.000 sebulanya. Dari situlah Wati bisa mencukupi biayahidupnya dia dan anak serta ibunya didesa. Wati menambahkan memang dia termasuk wanita dengan nafsu sex yang besar, saat masih ada suaminya hampir tiap malam suaminya diminta untuk menidurinya.
Lalu saat suaminya pergi, dia mulai merasakan akan kebutuhannya iitu tapi keluarganya orang taat semua. Jadi dia coba membeli ketimun yang kecil-kecil lalu mulai dicobanya untuk dimasukkan sedikit kelubang kemaluannya lalu itilnya di-gosok-gosok sendiri sambil membayangkan ditiduri oleh suaminya dan ternyata dinding kemaluannya bisa ber-denyut-denyut dan ketimun tersedot masuk kedalam kemudian ditariknya keluar lagi dan dienyut lagi hingga kesedot kedalam lagi dan begitu seterusnya sampai dia mencapai puncak nafsunya.
Sampai sekarangpun kalau nafsunya timbul dan bosnya lagi belum memanggilnya maka ia terpaksa melakuka yang demikian dan kadang-kadang menggunakan pisang masih mentah sebab kalau sudah masak gampang putus. Wati menceritakan semuanya dengan polos tanpa malu.
Karena jam sudah pk 01.00 lebih maka Wati kusuruh tidur dengan kepala dipangkuanku dan aku sendiri juga tertidur akhirnya. Kira-kira pk 03.30 aku terbangun saat mobil berhenti isi solar di Pekalongan saat itu spt biasanya pd jam-jam tsb kemaluanku juga bangun. Karena ada beberapa penumpang yang turun ketoilet maka mobil istirahat sisitu agak lama dan Wati juga ketoilet juga. Saat penumpang sudah naik lagi dan Wati juga naik dia duduk dulu bersandar ditubuhku lalu berbisik:
“Koh, anaknya bangun lagi nanti Wati isapnya yaa?”
“Terserah Wati mau diapain yang penting maninya bisa keluar dan puas” sahuntuku pelan-pelan.
Setelah mobil jalan lagi dan penumpang mulai tertidur lagi maka Wati juga tidur lagi dengan kepalanya dipangkuanku dan langsung tangannya melepas hak celana dan retsluiting nya, kemudian tangannya dirogohkan kedalam celana untuk menarik keluar kemaluanku yang sudah tegang itu. Langsung Wati mulai memasukkan kemaluanku kemulutnya dan menjilatai kepalanya serta yang kurasakan hebat ujung lidahnya bisa bergetar dilubang kemaluanku.
Ini yang membuat kemaluanku tambah keras dan besar hingga membuat Wati senang-senang dan gemas kadang-kadang diciumi kemaluanku dengan birahinya. Memang betul dugaanku kalau cewek punya type bibir tebal dan basah terus pasti isapannya enak sekali dan ahli secara alami.
Kira-kira 15 menit Wati mempermainkan kemaluanku dengan bibir, mulut dan lidahnya yang akhirnya membuat kemaluanku mencapai puncak kekerasan dan besarnya hingga terasa saluran mani mulai membuka dan sesaat lagi air maniku langsung menyembur keluar langsung masuk kedalam mulutnya Wati. Wati dengan handal langsung menyucup lubang kemaluanku hingga sisa-sisa mani yang ada disaluran terus tersedot keluar untuk dinikmatinya.
Setelah puas menikmati air maniku dan membersihkan kemaluanku dengan lidahnya Wati tertidur lagi dengan pipinya menindihi kemaluanku.
Continue Reading | komentar

Cerita Sex Warung Pinggir Jalan

cerita maniak sex
Cerita Sex Warung Pinggir Jalan

Cerita Sex Terbaru | Di daerahku, jalan raya Pemda Cibinong adalah tempat yang asik buat mojok, sepanjang pinggiran jalannya bisa ditemui para penjual jagung bakar atau warung kopi maupun wedang jahe hangat.
Demikianlah aku dan istri suatu hari pergi kesana. Sengaja kupilih jam 9 malam brangkat dari rumah agar situasi jalan pun tidak ramai, apalagi bukan malam minggu, jalan Pemda tidak ramai dengan motor-motor para biker jalanan.
Cerita Dewasa | Tank top bertali kecil warna biru muda plus jaket jadi kostum istriku malam ini. Sambil naik motor,kamipun brangkat ke tujuan.
Benar saja, jalanan Pemda nampak sepi, kuambil jalur lambat dan berhenti sebentar utk santai sejenak sambil menyalakan rokok.
Sejenak kutatap istriku yang juga nampak segar menikmati udara malam di tempat ini. Kulihat retsleting jaketnya full tertutup, mengingat tank top yang dipakainya, tentu jadi hot kalo retsleting jaketnya terbuka. Pasti belahan dada istriku yang montok menyembul jadinya. Satu remasan gemas di dadanya menjadi ekspresiku akibat pkiran nakal ku tadi.
Istriku nyubit..hehe
Setelah obrolan singkat dan mesra,kamipun kembali menyusuri jalanan pemda yang sepi, hanya beberapa grup anak muda ber’Vespa yang nongkrong malam ini.
Dari situ, akupun menawarkan istri utk mampir ke satu warung utk sekedar minum kopi, istri pun setuju, asal jangan warung yang banyak anak nongkrong2nya, dmikian pesan istri.
Dengan sikon malam ini, mencari warung yang sepi tidaklah susah. Akupun menghentikan motor di salah satu warung kecil yang agak remang dan kulihat ada seorang bapak2 sbg penjaga warungnya.
“Permisi,pak..pengen ngopi neh”, ujarku saat aku mulai duduk meleseh di bale-bale samping gerobak warungnya.
Istriku pun ikut duduk dan pesan teh manis hangat..si Bapak pun melayani. Segera ia kebelakang gerobak warungnya yang ternyata kegunaannya seperti dapur darurat, tempat ia membuat pesanan dari kopi sampai mie rebus.
“Sepi amat ni hari ya,Pak ?”,ujarku memulai obrolan.
“Iya nih, kalo hari biasa ya gini”,jwb si Bapak.
Akupun berdiri sambil meluruskn pinggang dan perlahan menghampiri si Bapak di dapur’nya, pikirku skalian ingin memberi tahu pesanan teh manis istriku agar tidak terlalu manis.
“oya,pak..teh’nya manis2 jambu aja ya”,kataku saat sudah berdiri disamping si Bapak.
“oh iya,mas..soalnya udh manis yah cewek’nya”,kata si Bapak sambil nyengir.
Kaget juga denger jawaban si Bapak, disitulah aku dan istri yang mendengar itu jadi berniat eksib dalam event ini.
“Ya iya,pak..udah manis,tinggal di’icip doang..”,jawabku sambil memberi kode pada istriku agar menurunkan retsleting jaketnya.
Si Bapak ketawa dan melirik istriku.
“huh,jangan dengerin,Pak..dia mah rese “,kata istriku dengan nada mendayu.
“tp bener loh, emang udh manis”,sahut si Bapak menanggapi istriku.
Istriku pun tertawa kecil, retsleting jaketnya sudah diturunkan, tank top biru yang dipakainya kini memamerkan belahan dadanya yang montok dari bagian depan jaket yang terbuka.
Tiba-tiba si Bapak mengecilkan suaranya,
“boleh juga,mas..dpt dari mana neh” aku nyengir,
“yah,biasalah pak..namanya juga usaha”
“susu’nya monon bener..”,ujar si Bapak sambil melamat-lamati istriku.
“ya udah, nanti ta’ kenalin sama bapak”, jwbku santai sambil bergegas kembali ke tmpat istriku duduk.
Si Bapak mengangguk sambil nyengir menatapku.
Kukedipkan mataku ke istri dan ia pun mengerti..
Si Bapak pun keluar dari dapurnya membawa pesanan kami.
“sekalian bikin kopi,pak..gabung ngobrol sm kita”, ajakku sambil mengedipkan mata.
Si Bapak ketawa kecil dan tanpa malu-malu ikut duduk di bale-bale warungnya. Matanya cepat sekali menangkap belahan dada istriku yang putih dibalut tank top birunya dibalik jaket.
“udah ngopi mah, yang belum mah nyusu, mas”, kata si Bapak sambil terus menatap wajah istriku. Istriku pun mesem-mesem dan pura-pura tak melihat.
“wah,kalo nyusu sh saya juga belum,pak..makanya lg nyari nih”,pancingku lagi.
Istriku makin mesem dan nyubit pahaku, “terus deh kamu, ngeledek aja nih”,kata istri dengan nada merajuk.
“yang enak mah dingin-dingin gini jangan susu kaleng ya,mas..susu nona, baru enak deh”,kata si bapak sambil melirik nakal kepadaku.
“ya gitu deh,pak..kalo ngopi kan sambil ngerokok, kalo nyusu sambil dirokok, wow,mantep deh”,pancinganku smakin berani.
“ih, apaan tuh dirokok..”,ujar istriku sambil ketawa.
“tuh, pura-pura ga tau dah,pak”,sahutku sambil menarik pundak istriku lembut agar merapat kesampingku.
Istriku pun paham, dengan santai ia pun bergeser kearahku duduk.
Karena jarak yang lebih dekat, pemandangan pun tentu lebih jelas, belahan dada istriku yang menantang sepertinya beberapa kali membuat si Bapak menelan ludah.
“tapi kalo menurut bapak, cewek saya gmana nih,pak ?”,tanyaku terus memancing.
“duh,ga tahan dah pokoknya, gemes ngeliat cewek situ”,jwb si Bapak tidak malu-malu lagi.
“gemes apanya nih pak, depannya ya pak?”,tanyaku
“ya iya, banyak susunya..”,jwb si bapak cepat sambil ketawa.
“ih,ga ada susunya,pak”,timpal istriku ikut ketawa.
“iya,pak..adanya empengnya doang”,sahutku ga kalah cepat.
Kami bertiga pun ketawa..
“biasa pak, kalo disini dia malu-malu, padahal mah, ckckck..”,ledekku kepada istri.
“padahal mah doyan yah”, timpal Bapak sambil melirik kearahku.
“huh,bapak ga tau aja..ampe ngilu,pak”,jawabku sambil mendekap lembut istriku.
“ngilu ? Emang ngilu apaan”,sahut istriku manja.
“sedotannya ngilu”, jwbku cepat dibarengi colekan ke toket istriku.Istriku kaget dan mencubit tanganku sambil ketawa.
si Bapak nyengir melihat tanganku yang nakal dan kurasakan tatapan gemas luar biasa…
melihat toket istriku yang ranum.
“duh,baru dicolek udh nyubit, apalagi diremes yah”,ujarku sambil makin merapatkan diri ke tubuh istriku.
“kalo diremes mah anteng,mas”, si Bapak yang menyahuti.
“wah,bapak tau aja, emang anteng,pak”,timpalku sambil menatap belahan dada istriku sendiri.
“huu,sok tau”,ujar istriku pun lagi-lagi mencubit.
Saat istriku mencubit,kubarengi dengan remasan cepat di buah dadanya.
“awww..”,pekik istriku kaget.
Sengaja kudekap agak erat tubuh istriku sambil terus meremas dadanya..kurasakan tubuh istriku agak bergetar saat jariku menyentuh kulit dadanya yang terbuka.
“tuh,pak.. anteng kan..”,kataku sambil terus meremas-remas dada istriku dengan lembut.
“ya iyalah, wong enak..dari dalem dong,mas”, ujar si Bapak makin suka.
“ih, kamu mah jail aja. Nanti bapak ngiri tuuh..”,ujar istriku yang kini menyandarkan kepalanya di dadaku..
“kalo ngiri yah kamu kasih pegang juga dong”,jwbku mesra.
Wajah si Bapak nampak matang, aku yakin dia gregetan banget sama istriku.
“ih, brani’nya kroyokkan”,jwb istriku manja.
Kumasukkan telapakku kini kedalam tank top’nya..kurasakan nafas istriku mulai tak teratur.
“eehm, anget bener,pak”, kataku pada si Bapak yang kulihat jd terkesima menatap kelakuan aku dan istri.
Melihat situasi itu, ku sengaja meraba dada istriku lebih kedalam lagi sampai bagian depan tanktop’nya turun dan memamerkan dada montok istriku yang terbungkus bra merahnya.
“wah, mulus ya,pak”,ujarku sengaja.
“iya, ini mah mantep,mas”,jwb si Bapak.
Istriku membuang senyumnya kearah lain, kurasakan dia sudah asik menikmati belaian di dadanya yang terus kulakukan dengan lembut.
“eh,kasian si Bapak tuh..kamu kejam juga nih”,godaku pada istri.
Istri tak menjawab, ia cuma mesem, tak lupa cubitan khas’nya disarangkan diperutku.
Perlahan mulai ku singkap bra untuk mengeluarkan buah dada istriku dari bungkusnya. Kulirik mata istriku sudah terpejam,desah-desah kecilnya pun terdengar makin sering.
“Waduh, monon bener dah..”,ujar si bapak saat ia melihat buah dada istriku yang kini keluar dari bungkusnya.
Aku menatap wajah si Bapak sambil memberi kode, si Bapak nyengir penuh nafsu.
Mungkin melihat istriku yang ‘anteng’ ditambah ajakan dariku membuat si Bapak mulai berani mendekati dimana posisi aku dan istri duduk.
Melihat sikon itu akupun mulai menyingkap tanktop istriku supaya dada montok istriku benar2 terbuka. Istriku makin mendesah, apalagi saat ku mulai memainkan puting susunya yang tegang dengan jemariku.
Melihat pemandangan itu si Bapak seperti terbelalak, kutatap wajahnya dengan senyuman dan skali lg memberi kode kepadanya.
Nafas si Bapak memburu, tangannya pun terjulur kearah buah dada sebelah kiri istriku.
Istriku agak tersentak saat merasakan sentuhan pertama dari si Bapak dan sebentar melirik aku dan memejamkan matanya lagi.Sensasi nikmat yang berbeda jelas ia rasakan. Dengan duduk menyamping dan bersandar ke dadaku, ia nampak sedang menikmati kedua dadanya yang kini sedang menerima rangsangan.
“mantep ya,pak”,ujarku meledek si Bapak yang asik memainkan jarinya di puting istriku.
“huu, paling bisa deh nh..dua2nya demen kalo kaya beginian”,kata istriku sambil sedikit menggelinjang.
“iya,mas..jadi enak nih kita”,jwb si Bapak agak tersipu, tp tangannya masih sibuk bermain dan kini mulai meremas seluruh bongkahan montok buah dada istriku. baca juga cerita sex lainya di >> seksigo.com
Desah kecil kembali terdengar dari mulut istriku, apalagi saat kususul dengan kecupan-kecupan kecil di lehernya.
Si Bapak kembali mengatur posisinya lebih dekat lagi,dan sekarang tangan kanannya pun ikut membelai pantat istriku. Sesekali telinga istriku dikecupnya, geli bercampur nikmat dirasakan istriku, remasan di pahaku mungkin jadi pertanda ia sedang menikmati sensasi yang ia rasakan.
Kecupan di leher pun terus kulakukan sambil perlahan naik merambahi pipi, istriku terus mendesah dan menggeliat pelan.
Kulirik sebentar si Bapak, dan agak kaget saat kulihat tangan kiri si Bapak ternyata sudah berani turun kebawah, kini sibuk menggosok-gosok memek istriku walau masih tertutup celana jeans.
Kuberi istriku gigitan kecil di lehernya, reaksi spontan yang nikmat bercampur geli membuat istriku sedikit menoleh kepadaku, saat itulah tangan kiriku meraih tengkuknya dan dengan lembut kuraih bibirnya utk ku kulum, seperti merajuk, istriku meraih pundakku dari belakang dan melayani ciumanku dengan penuh penghayatan.
Gairah yang makin panas mungkin yang membuat si Bapak tak mau kalah, perlahan dia kembali meremas dada istriku dan dengan nafsu si Bapak pun merunduk dan dengan gemas menangkap puting istriku dengan mulutnya.
Sekali lagi istriku tersentak, sejenak permainan bibirnya terhenti, merasakan itu perlahan aku pun terhenti dan melirik kearah si Bapak yang tengah sibuk berkelana di dada istriku.
Tak tahu atau karena buta akan nafsu membuat si Bapak tak sadar kalau sedang di perhatikan.
Seperti anak kecil yang sedang menyusui, mulut si Bapak tampak memompa puting susu istriku dengan sangat bergairah, tak luput juga lidahnya menyapu kulit lembut dan kenyal dada istriku.
Istriku tersentak-sentak karena tak jarang si Bapak menekan tubuh istriku dari belakang dengan tangan kanannya kedepan yang membuat wajah si Bapak semakin erat terbenam di dada montok istriku.
Kulihat istriku agak terengah-engah, matanya mulai terpejam lagi, dan saat bibirnya membuka, cepat kuarahkan lagi ciuman panas untuknya.
si Bapak kini mulai berganti ke dada istriku sebelah kanan yang tadinya adalah wilayahku, melihat itu, kuarahkan tubuh istriku kebelakang agar si Bapak bisa mendapat sela yang lebih lapang, selain itu, dengan posisi demikian..
Aku bisa bermain di selangkangan istriku. Nampaknya istriku mengerti, perlahan ia membuka pahanya dan memberi ruang saat ku coba membuka kancing celana jeans’nya.
Suara desah bercampur nafas memburu serta suara kecupan si Bapak membuat adegan menjadi tambah seru. apalagi saat tangan kiri istriku mulai menggapai dan mengelus selangkangan si Bapak.
Dengan wajah masih terbenam di dada istriku si Bapak dengan agak susah membuka retsleting celananya dan langsung mengeluarkan k0ntol’nya.
Wow, nafsu banget neh si babeh, pikirku melihat aksi itu. Nampak k0ntol si Bapak mencuat dari sela celananya yang terbuka dan langsung disambut dengan kocokan perlahan dari istriku.
Kini berganti istriku lah yang sibuk menjilati leher sambil sesekali melumat bibirku, kutambah lagi rangsangan buatnya, dengan segera akupun menyusupkan telapak tanganku ke dalam celana jeans’nya, mencari memeknya yang ternyata sudah lembab dengan cairan yang keluar akibat dari sensasi yang ia rasakan.
Agak susah memang, tp akhirnya telapakku menemukan juga tempatnya, segera kumainkan jari2 ku di sela memek istriku. Satu gigitan kecil dan remasan di pundakku jadi pertanda ia menyukai aksiku. Tangan kirinya pun kian cepat mengocok k0ntol si Bapak, si Bapak pun semakin liar menjilati dada istriku. Suara mulutnya yang bermain disana berkecipak membuat suasana jadi semakin menjadi-jadi.
Kurenggangkan dekapanku pada istriku dan perlahan membuka retsleting celanaku, tp tangan istriku dengan cepat menepis tanganku, aku kaget dan menatap wajah istriku, istriku seperti mencibir dan kembali menyandarkan tubuhnya ke dadaku dan mulai lagi menciumi aku, tangan yang tadi menepis kini sibuk mengelus-elus selangkanku dari luar. Aku masih tak mengerti maksud istriku, tp lumatan bibir istriku membuatku tak bisa berpikir lagi. Dengan gemas kutambah tensi rangsangan di memek istriku.
Biar tau rasa, begitu pikirku..hehe
Pergumulan terus berlangsung, tiba-tiba,
“Aduh…”, istriku memekik kecil.
Aku yang tadinya lagi sibuk menjilati leher istriku pun jadi terhenti.
“duh,si eneng..ssssh..ah..”,suara si Bapak terdengar agak parau, kepalanya agak mendongak, matanya merem melek.
Cairan putih kental kulihat melumuri tangan istriku, beberapa kali si Bapak menyentak dibarengi muntahan sperma dari k0ntol’nya. Istriku melirik aku dan tersenyum agak mencibir, tangannya tetap mengocok k0ntol si Bapak dengan lembut. Melihat mimik si Bapak ada yang lucu di benakku,tp aku tetap diam karena aku tahu berapa hot’nya suasana dari tadi sampai membuat si Bapak kebablasan begitu.
“duh,si Bapak muntah nih”, ujar istriku agak meledek.
“iya nih,neng..maap yah,kagak bilang2 dulu”,jwb si Bapak agak tersipu.
Entah malu atau karena nafsunya sudah terlampiaskan,si Bapak bangkit dari duduknya dan melangkah ke dapur, terdengar suara siraman air. wah, si Bapak lagi cuci-cuci neh, pikirku agak lucu juga.
Kutatap wajah istriku, kucium lagi bibirnya, sesaat saja sampai kurasa cubitan di perutku.
“Udaah..”,kata istriku mencibir.
“eh,papa..ambil gelasan air mineral dong,pa”,pinta istriku.
Aku paham dan bangkit mengambil gelasan air mineral yang tersusun di warung si Bapak seperti piramida.Istriku pun bangkit utk membetulkan celana dan pakaiannya.
Gelasan air mineral yang kuambil digunakan istriku utk mencuci tangannya yang lengket dengan cairan si Bapak lengkap juga dengan tissue basah yang memang slalu ada di tas kecilnya.
Istriku menatapku sebentar, kucubit hidungnya, dia mencibir lagi dan berjalan ke trotoar depan warung.
“buruan napa, udah malem,tau”,kata istriku pelan.
Aku mengerti, akupun berjalan kearah dapur warung si Bapak.
Kulihat si Bapak lagi meminum segelas air putih.
“pak, mau jalan lagi nih..berapa kopi sama teh’nya..?”,tanyaku tanpa basa basi sambil nyengir.
“yah,buru2 amat,mas..emang situ udah beres ?”,sahut si Bapak ikutan nyengir..
“yah saya mah gampang,pak..nanti juga ngandang..”,jawabku ringan.
si Bapak ketawa kecil, terlihat seperti kelelahan setelah aksinya tadi.
“wah,mantep tu cewek,mas..bisa bisaan situ nyari’nya”, kata si Bapak pelan.
“ya iya dong,pak..kalo ga mantep, ga akan kita bawa-bawa”,jwbku santai.
“ya udah, ga usah bayar ga apa2, anggap aja orang sendirilah”, kata si Bapak lagi sambil melangkah keluar dari dapur warungnya.
Matanya kembali menatap istriku yang sudah berdiri menunggu di trotoar dpn warung.
“wah,makasih,pak..”,sahutku singkat dan cepat juga menghampiri istriku.
“kapan-kapan maen lagi ya,neng”,ucap si Bapak kepada istriku.
“iya,pak..laen kali kalo maen jugan kebablasan lagi yah, blecetan semua tu jadinya”,sahut istriku sambil mesem.
“abis si eneng heboh bener sh”,jwb si Bapak tersipu malu.
Aku pun bergegas kearah motorku yang terparkir, menyodorkan helm buat istriku, memasang helmku sendiri dan menyalakan mesin motorku. cerita sex
Istriku naik,
“yuk,pak..jalan dulu ya”,ucapku sebagai tanda perpisahan.
“jalan ya,pak”,istriku pun ikut pamit.
“iya dah, ati-ati..kapan2 maen lagi ya..”,jwb si Bapak yang kemudian disusul dengan laju motorku meninggalkan warungnya.
Angin dingin kembali menyejukkan kami berdua.
“mama..tadi kamu kenapa sih ?”,tanyaku ditengah jalan.
“kenapa apaan ?”,jwb istriku
“aku pengen keluarin kok kamu tepis ?”,tanyaku lagi
terdengar tawa renyah istriku.
“sengaja..”,ucap istriku singkat.
“jahat ih..”,sahutku sambil senyum.
“biarin..”,jwb istriku lagi.
“tadi aku kirain kamu bakalan ngisepin punya si Bapak lho,ma”,goda aku.
“aku tau tuh, emang bakalan begitu”,sahut istriku
“eh dia kebablasan ya,ma”,aku terus menggoda.
“biarin, sengaja..”,jwb istriku
“lho? Kok sengaja semua ?”,tanyaku heran.
Istriku ketawa lagi.
Aku jadi lucu juga..
“emang kenapa sh,ma..kok ketawa?”,tanyaku
Istriku menutup tawanya.
“karena badan si Bapak bau banget tau..”,ujar istriku dan tawanya pun meledak lagi.
Akupun ikut ketawa.
“lagian kenapa kamu diem aja,ma?”,ucapku
“gmana ngomongnya.. Akunya udah terbawa suasana kan,pa”,jwb istriku cepat.
“trus apa hubungannya sama nepis tangan aku ?”,tanyaku masih penasaran.
Istriku tak langsung menjawab, yang kurasakan cuma pelukan tangannya makin erat dipinggangku.
“karena kalo kamu punya tuh buat dirumah..”,ujar istriku.
Aku tersenyum mendengar jawabannya dan tak bertanya lagi.
Kulanjutkan fokusku mengendarai motor.
“papa ?”,tiba-tiba istriku bersuara.
“apa ?”,sahutku
“pala mama puyeng nih”,ujar istriku terdengar merajuk.
Aku tersenyum lagi, mengerti maksud istriku.
“iya ma, mama sabar yah”,jawabku mesra..
Kupercepat laju motorku.
Wah, dirumah bakal seru lagi nih, pikirku sambil senyum-senyum sendiri.

sumber : cersex.com/
Continue Reading | komentar

Cerita Sex: Ngesex Dengan Saudara Perempuanku

Namaku Ari. Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah PTS swasta terkenal di Jakarta. Cerita sex terbaru ini berawal 2 tahun yg lalu, ketika anak pamanku yg tinggal di Malang disekolahkan oleh orangtuanya ke Jakarta.
Nita namanya. Umurnya saat itu baru 16 tahun. Walaupun begitu, ia terlihat lebih dewasa dari usianya yg sebenarnya. Tingginya sekitar 165 cm, rambut panjang sebahu dengan bentuk tubuh yg proporsional. Dadanya cukup besar, kutaksir ukurannya sekitar 34 B. Hidungnya mancung dan kulitnya putih mulus. Maklum, ibunya keturunan Belanda.
Selama bersekolah di Jakarta, Nita tinggal di rumahku. Makin hari, kami semakin akrab. Terkadang, bila ada waktu luang, ku jemput dia sepulang sekolah dengan mobilku. Tdk jarang kuajak dia ke tempat-tempat rekreasi yg ada di Jakarta, atau ke mall untuk sekadar Window Shopping. Semua itu kulakukan hanya untuk berdekatan dengannya. Sejujurnya, aku tergiur dengan keindahan tubuhnya. Namun semua itu masih bisa kutahan. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tdk melakukan hal-hal yg menjurus padanya, mengingat dia adalah sepupuku sendiri.
Pada suatu hari, hujan turun deras sekali. Rumahku sedang kosong saat itu, kedua orangtuaku sedang sibuk dangan urusan bisnisnya masing-masing. Adikku main ke rumah temannya, sedangkan pembantuku pulang kampung. Tinggallah aku sendiri di kamarku, bersantai sambil menyaksikan film porno ditemani sebotol Vodka. Aku adalah seorang pecandu alkohol. Tiba-tiba kudengar bel pintu berbunyi.
“Siapa yg datang hujan-hujan begini?”, pikirku dalam hati.
Segera saja kubuka pintu dan tampak di depan pintu pagar rumahku ada seorang gadis berseragam SMU yg kehujanan. Ternyata gadis itu adalah Nita.
“Kehujanan ya Nit?” dia mengangguk.
“Kenapa ngga minta di jemput?”
“Tanggung Kak, Nita udah di perjalanan pas hujan tadi” jawab Nita
“Ya sudah kamu mandi air panas sana, biar nggak demam nanti
Dia pun menurut. Saat itu aku baru menyadari di depanku ada pemandangan yg sangat indah. Tubuh Nita yg sangat indah terlihat jelas di balik seragam sekolahnya yg basah kuyup. Saat itu, Nita mengenakan Bra hitam yg sangat seksi. Melihat pemandangan seperti itu, k0ntolku langsung menegang. Tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk mencicipi tubuh Nita, sepupuku sendiri. Aku langsung melepaskan semua pakaianku, supaya lebih gampang melaksanakan niat jahatku. Kutunggu dia di depan kamar mandi.
Selang beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan muncul Nita dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia tampak kaget setengah mati melihatku dalam keadaan bugil.
“Kak..”, belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, kuterkam tubuhnya.
Kudekap erat dan kutarik handuk yg melilit di tubuhnya dengan cepat, sehingga ia langsung telanjang bulat sama sepertiku. Ku seret dia ke dalam kamarku. Dia mencoba memberontak tapi sia-sia. Tenagaku jelas lebih kuat darinya.
“Kak, apa-apaan ini? Lepaskan!” Aku tdk peduli dengan teriakannya.
Sesampainya di kamar, kuhempaskan tubuhnya ke ranjang. Kutindih tubuhnya, kuciumi lehernya yg putih mulus.
“Kak, sudah Kak, cukup! Ingat aku saudaramu..”
“Diam kamu!”
“Kak Ari mabuk yah..? sadar Kak..”
Teriakan dan rontaannya malah membuatku semakin terangsang. Kulumat bibirnya yg merah dan tipis menggiurkan itu.
“Mmmhh.. mmppff..” Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan oleh bibirku.
Sementara tangan kiriku meremas dadanya yg putih dan montok. Begitu kenyal dan halus. Kumainkan putingnya yg berwarna pink itu. Ia masih belum menyerah untuk berontak. Tetapi, semakin ia berontak, semakin aku bernafsu untuk memperkosanya. Ciumanku turun ke dadanya. Kulumat puting susunya dengan rakus. Kadang kugigit-gigit. Nita menggelinjang kegelian.
“Kak.. sshh.. cukuphh.. udah dong.. sshh” Ujarnya setengah mendesah.
Aku malah semakin gencar melancarkan seranganku. Kali ini jemariku kuarahkan ke memeknya. Kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ternyata Nita sudah tdk perawan.
“Ooo, kamu sudah pernah toh.. gimana rasanya, enak kan? Sudahlah, nggak usah malu-malu. Nikmati aja..” Mendengar kata-kataku, Wajah Nita merah padam menahan malu.
“Tdk! Nita nggak mau..”
Mulutnya menolak, tetapi kurasakan memeknya semakin basah karena jariku bergerak keluar masuk. Pantatnya pun bergerak-gerak merespon gerakan jariku. Kupermainkan klitorisnya dengan jariku. Dia tersentak kaget.
“Aahh.. jangan.. mmhh.” Ciumanku pindah lagi ke bibirnya.
Kumainkan lidahku. Selama beberapa detik tdk ada respon. Tetapi beberapa saat kemudian lidahnya membalas lidahku. Dia juga sudah tampak mulai pasrah, tdk lagi mencoba berontak seperti tadi. Kulepaskan ciumanku dari bibirnya. Kujilati dari wajahnya ke leher, turun ke dada, perut, dan akhirnya sampai pada lubang kenikmatan. Kujilat-jilat bibir memeknya sementara jariku masih bergerak keluar-masuk memeknya.
“Ooohh.. udahh.. geli..” Tangannya mencoba mendorong kepalaku.
Tapi kutepiskan dengan tanganku yg satu lagi. Kuteruskan permainan lidahku di memeknya. Kali ini kugelitik klitorisnya.
“Uuhh.. sshh.. jangaannhh.. sshh.”
Memeknya semakin basah. Kupikir, inilah saatnya. Aku segera bangkit dan mengarahkan k0ntolku yg sudah pada ketegangan maksimal. Nita sepertinya tahu apa tindakanku selanjutnya. Dia mencoba mendorongku, tapi kupegangi kedua tangannya. Kubuka lebar kedua pahanya dengan pahaku. Kumajukan pinggulku dan, bless! Dengan sekali tekan, amblaslah k0ntolku ke dalam memeknya.
“Jangan Kaakk.. oohh” teriaknya berusaha mencegahku.
Tetapi sudah terlambat. Aku tdk membuang waktu. Langsung kukocokkan k0ntolku, semakin lama semakin cepat. Memek Nita masih sangat sempit. Mungkin karena belum terlalu sering diterobos. Kurasakan memeknya berdenyut-denyut. Nikmat sekali. Nita pun sepertinya sudah lelah untuk melawan. Ia malah terlihat seperti sedang menikmati setiap sodokan yg kulakukan.
“Ssshh.. mmhh.. uuhh..” begitu saja yg keluar dari mulutnya.
Wajahnya merah, entah merah karena malu, atau karena nafsu. Bibirnya yg seksi terbuka, membuatku ingin melumatnya. Langsung saja kucium bibirnya. Kali ini, Nita langsung membalas ciumanku. Lidah kami saling membelit satu sama lain. Tanganku tdk tinggal diam. Kuremas lembut payudaranya yg indah. Kadang kupelintir putingnya yg sudah menegang.
“Oohh.. sshh.. uuhh” desahannya semakin keras.
“Gimana, enak kan?” tanyaku.
Wajahnya semakin merah mendengar pertanyaanku. Dia hanya terdiam. Kuhentikan sodokanku. Ternyata pantatnya masih terus bergoyang-goyang. Kusentakkan pinggulku secara tiba-tiba. Kupercepat gerakanku sampai pada batas maksimal kemampuanku. seksigo
“Aaahh.. Kak Ariiii.. uuhh.. sshh..”
“Kenapa sayang? kamu menikmatinya?”
“Iyahh.. oohh.. eennaakkhh.. sshh.. aahh…”
Tak terasa 15 menit sudah kami berpacu dalam nafsu.
“Kak.. sshh.. Nita.. mauhh.. kkelluarrhh.. oohh..”
“Tahan dulu sayang.. hh.. sebentar lagi..”
“Nggak bisaahh.. Niiittaa kkellluuaarr.. aakkhh..”
Badannya mengejang tak karuan diiringi teriakan kenikmatan yg membahana. Sementara kecepatanku sama sekali tdk kukurangi. Tangan kiriku menggelitik klitorisnya, tangan kananku meremas dan memainkan payudara kirinya, sedangkan bibirku menghisap puting susu sebelah kanan. Semua kulakukan untuk menambah nikmatnya sensasi orgasme.
“Sabar ya sayang. Aku belum keluar.” bisikku mesra di telinganya.
Kucabut k0ntolku dari memeknya untuk memberinya kesempatan beristirahat. Kujilati lehernya sampai ke belakang telinga. Kugelitik klitorisnya dengan jemariku. Tak lama kemudian, memeknya kembali basah.
“Kamu mau lagi sayang?”. Nita mengangguk pelan.
Kali ini dia lebih agresif. Dia langsung memegang k0ntolku da meremasnya.
“Punya Kak Ari besar dan panjang yah.. sampai mentok”.
Aku hanya tersenyum. Bangga juga ada yg memuji senjataku, walaupun bukan yg pertama kali k0ntolku diakui kehebatannya. Nita meneruskan aksinya. Dia tdk lagi meremas, melainkan menjilati k0ntolku dari ujung sampai ke buah zakar. Nikmat sekali rasanya. Tak lama kemudian, dia mengulun k0ntolku. Kulumannya sangat nikmat. Lembut, tapi sangat terasa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati setiaphisapan yg dilakukannya padaku.
Saat kubuka mata, Nita sudah duduk di atas k0ntolku. Dia lalu mengarahkan k0ntolku ke lubang memeknya. Dan.. slebbbb.. tertelan sudah batang k0ntolku oleh memeknya. Nita bergoyang diatasku seperti orang menunggang kuda. Terkadang, ia memutar pinggulnya, persis seperti goyang Inul. Kuremas-remas payudaranya yg menggantung seksi di depanku. Kadang kuhisap dan kujilati putingnya.
“Oohh.. sshh.. geli.. mmhh..” Nita merintih-rintih di atasku.
Selang 20 menit kemudian, Nita orgasme untuk yg kedua kalinya. Dia langsung ambruk di dadaku. Kubalikkan tubuhnya. Kutusuk dari belakang. Kugerakkan pinggulku secepat mungkin. Nita hanya mampu merintih dan mendesah. 5 menit kemudian, akumerasa ada sesuatu yg hendak keluar dari senjataku.
“Nit.. aku.. mauhh.. kkeellluarr..”
“Janganhh.. dihh.. dalammhh.. mmhh”
Langsung kucabut k0ntolku dan kuarahkan ke wajahnya. Kubiarkan dia mengulum k0ntolku.
Beberapa detik kemudian.. crett.. creeett.. aku ejakulasi di wajahnya. Sebagian spermaku masuk ke mulutnya, dan sebagian lagi membasahi wajah, leher dan dadanya.
Kami berbaring lemas dengan nafas tersengal. Kami berbincang-bincang dan akhirnya dia menceritakan tentang mantan pacarnya yg merenggut keperawanannya. Mantan pacarnya adalah kakak kelasnya sewaktu di Malang. Sekarang, anak itu sudah meninggal akibat overdosis narkoba. Nita pindah ke Jakarta untuk berusaha melupakan peristiwa itu. Ia beralasan kepada orangtuanya bahwa sekolah di Jakarta lebih bagus. Setelah cukup lama berbincang-bincang, kuajak dia mandi bersama.
Nafsuku kembali bangkit saat kami saling menyabuni tubuh masing-masing. Saat itu dia menyabuni k0ntolku sambil meremas-remasnya. Langsung kucium bibirnya dan dia membalas dengan tak kalah ganasnya. Kami kembali melakukannya, kali ini dengan posisi berdiri di bawah guyuran shower. Tak henti-hentinya kuremas payudaranya yg montok dan kenyal itu. Kami melakukannya selama kurang lebih 12 menit lalu orgasme hampir berbarengan. Aku kembali berejakulasi di wajahnya. Entah mengapa, aku sangat merasa sangat puas bila melihat wajah wanita berlumuran spermaku.
Kami masih sering melakukannya hingga saat ini. Tak hanya di rumah tetapi juga di tempat-tempat lain seperti di hotel, mobilku, bahkan pernah kami melakukannya di WC sekolahnya. Padahal, aku sudah punya pacar dan Nita pun begitu. Ada kepuasan yg berbeda bila bercinta dengannya. Ada satu hal yg sama-sama ingin kami coba, yaitu beradegan three some. Ada yg berminat untuk ikutan?

sumber  : cersex.com
Continue Reading | komentar

Cerita Seks Bergaya Dogy Style

Cerita Seks Bergaya Dogy Style. kali ini cerita dewasa tentang pengalaman ngentot seorang laki-laki yang bekerja sebagai sales di sebuah supermarket di kota bandung, yang dimana peristiwa ini di mulai ketika seorang gadis manis yang bekerja di supermarket tersebut meminta bantuan untuk menggosokkan badan bagian belakangnya karena gatal.

Cerita Seks Bergaya Dogy Style

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

karena yang meminta bantuan adalah seorang gadis yang bahenol, seksi dengan badan yang montok dan payudara yang kenyal akhirnya laki-laki tersebut langsung saja menggaruk tanpa berpikir panjang. Dari situlah cerita seks dewasa ngentot dengan gadis cantik digudang supermarket ini bermula.
Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Ita. Ita adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia beritahukan padaku.
Ita memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Ita pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Ita mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu.
“Cerita dewasaku ngentot sama cewek cantik digudang supermarket tempat kerjaku“
Suatu hari Ita datang padaku”, Fer belakang badan Ita gatal-gatal nih”, Ita memberitahuku akan masalahnya.
“Tolong gosokkan ya, Fer” Ita menyuruhku.
“Kalau begitu kemarilah”, balasku dengan sedikit terkejut.
“Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat” Ita memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair.
“Fer” Ita menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Kemudian Ita mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku.
Ita menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Ita, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Ita.
Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Ita kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Ita. Aku menggosok rata. Ita meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Ita yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Ita, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Ita.
“Hei! Apa-apaan nih”, Ita melarang sambil menepuk tanganku.
“Ohh! sorry”, aku meminta maaf.
Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Ita pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Ita, tetapi Ita menepuk lagi tanganku.
“Jangan!”, larang Ita lagi.
“Sudah hilang belum gatal itu?”, Tanyaku pada Ita.
“Belum!” jawab Ita pendek.
Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Ita, kini aku telah dapat memegang buah dada Ita yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih.
Ita tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Ita. Ita menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku.
Ita nampak sudah mula merasa terangsang, dan memang ini adalah salah satu cara untuk membuat wanita terangsang. Aku mencium tengkuk Ita. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku.
Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Ita pula! Aku sadari tadi memeluk Ita dari belakang. Batang penisku yang beberapa waktu lalu telah aku gunakan obat memperbesar penis tambah semakin keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Ita.
Ita ketawa kecil, merangsang sekali! Ita membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai.
Kini payudara Ita tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Ita supaya berhadapan denganku. Ita menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Ita. Aku menanggalkan bajuku. Ita mencium dadaku, perutku.
Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Ita berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras.
Ita merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Ita menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya, tapi untung saja sebelumnya saya sudah memakai obat kuat lelaki hingga tidak cepat ejakulasi saat di kulum oleh ita.
Ita mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Ita mencium sekitar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Ita terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Ita. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Ita dengan mendorong dan menarik kepalanya.
“Ita, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Ita sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Ita masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Ita. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
“Aik! belum apa-apa sudah lembek”.
Ita mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Ita tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Ita duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Ita sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya.
Aku mencium sekitarnya. Ita meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Ita. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Ita.
“Argh, argh, argh!” Ita mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekai. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit,
“Argh!” Ita mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Ita perlahan.
Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Ita makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Ita. Ita mencabut penisku keluar.
Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah.
Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Ita kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Ita merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya.
“Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..!” Ita menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Ita masih telentang, pahaku di bawah paha Ita, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya.
Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Ita bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog style’.
Aku pegang kiri dan kanan pantat Ita dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Ita di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi.

sumber  : esexesex.com/
Continue Reading | komentar

Cerita Seks Kakaku Birahi

Kumpulan Cerita Sex , Cerita Seks Dewasa, Cerita Dewasa dan Cerita Seks , Cerita Seks Remaja , Cerita Sex Sedarah , Cerita Sex Hot, - Cerita Seks - Cerita Bokep xXx |  - Cerita Seks Kakaku Birahi. Karena aku sering melihat kakakku sedang masturbasi jadi kebiasaanku mengintip kakakku, dimana kakakku juga lesbian orangnya suka sesame jenis, sempat aku bermain bersama dengan pasangan lesbiannya perkenalkan namaku Fahri aku mahasiswa di Bandung sekarang semester 2 jurusan TI, dari kuliah aku tinggal satu rumah dengan kakakku Namanya Ratna.
Cerita Sex Kakaku Birahi



Cerita Seks Kakaku Birahi

Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.

Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Ratna. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Ratna saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional.

Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.

Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Ratna, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Ratna saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Ratna.

Namun dari semua kekagumanku pada kak Ratna, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Ratna memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ?

Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.

Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Ratna asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci.

Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok sesore ini kak Ratna sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Ratna didalam kamar melalui lubang kunci.

Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Ratna menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!

Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari.

Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya.

Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Ratna masih menindih batal guling.

Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.

Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…

Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Ratna mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu. Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri.

Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Ratna didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Ratna yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Ratna nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Ratna mencengkram seprai.

Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal.

Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku. Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling.

Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Ratna. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Ratna yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras.

Aku membayangkan tubuh kak Ratna aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)

Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Ratna mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Ratna sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Ratna !)

Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Ratna. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Ratna sedemikian putih dan moligh.

Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.

“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Ratna sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Ratna, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?

“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Ratna menatapku dengan pandangan aneh.

“Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Ratna bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.

“OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Ratna yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…

“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Ratna. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.

“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.

“Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.

“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.

Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.

Setelah memastikan kak Ratna pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Ratna, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.

Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Ratna bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Ratna. Aman ! sejauh ini kak Ratna tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.

Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Ratna melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Ratna. Ia mestinya memang sudah berumah tangga.

Tapi biarlah, kak Ratna toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Ratna melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..

Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Ratna ketika kak Ratna tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?

Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Ratna masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.

“Mau kemana Ted ?”,

“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .

“Jangan dulu dikunci, temen kak Ratna ada yang mau kesini !”,

“Mau kesini ? siapa kak ?”,

“Santi…yang dulu itu lho !”,

“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Sinta ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.

Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Ratna berdering. Kudengar kak Ratna berbicara, rupanya temennya si Sinta brengsek itu udah mau datang. Huh !
Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.

Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Ratna udah pulang kali ?!.

Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!

Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan kak Ratna dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Ratna ternyata menyukai sesama jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!

Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.

Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.

Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Ratna dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian.

Mereka saling menatap dan tersenyum. Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Ratna. Sementara kuperhatikan tangan kak Ratna nampaknya mengelus-elus pinggang kak Sinta, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu.

Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.

Perlahan kepala kak Sinta mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Ratna. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.

Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !

Sesaat kak Sinta nampak menelusuri leher kak Ratna dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri. Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Ratna yang pasrah tengadah, sementara kak Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga.

Aku tak tahan melihat kak Ratna diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.

Situasi semakin seru, kak Ratna kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Sinta yang kini terlentang ditindih kak Ratna. Kepala kak Sinta mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.

Kemudian kak Ratna berpindah menciumi dada kak Sinta, sekarang baru nampak jelas wajah kak Sinta. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Ratna. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.

Kak Ratna benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Sinta. Wajah kak Sinta mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Ratna mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Ratna. Bergantian kak Ratna mengerjai kedua payudara kak Sinta.

Kak Sinta menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Ratna menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Ratna muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Sinta tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Ratna.

Sesaat kemudian kak Ratna menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Sinta tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Ratna, tapi menurut perkiraanku kepala kak Ratna tepat diantara selangkangan kak Sinta.

Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang terlihat, kak Sinta mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Ratna. Kepala kak Sinta bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini.

Kondisi seperti itu berlalu cukup lama. Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !

Tiba-tiba aku lihat kak Sinta mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Ratna. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam.

Matanya terpejam. Kemudian kak Ratna muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Sinta tersingkap karenanya. Kak Sinta kemudian meraih kedua bahu kak Ratna, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Ratna, lalu merangkul kak Ratna ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan.

Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.

Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Ratna membaringkan badanya. Terlentang. Kak Sinta menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Ratna kelihatan protes, tapi protes kak Ratna dibalas dengan lumatan bibir kak Sinta.

Tubuh kak Sinta menindih tubuh kak Ratna. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh.

Kak Sinta kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Ratna nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Sinta nampak lebih terampil dari kak Ratna, hampir setiap inci tubuh kak Ratna dijilati dan dikecupnya.

Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Ratna dari arah perut dan terus bergerak ke awah. Kak Ratna hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Ratna yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Sinta menahanya, akhirnya kak Ratna menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.

Kak Sinta kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Ratna. Tangan kanan kak Ratna mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat.

Tubuh kak Sinta kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Ratna. Kak Sinta menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Ratna, sehingga tubuh bagian bawah kak Ratna makin terangkat. Kepala kak Ratna terjepit persis diantara selangkangan kak Ratna. Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Ratna.

Aku lihat tubuh kak Ratna mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Ratna menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Ratna dan kak Sinta.

“Kak Ratnaii… kak Sinta……, ini Fahri… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
Semakin lama kak Ratna kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya.

Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta. Semakin lama gerakan kak Ratna semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!!

Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Ratna dan kak Sinta pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….

Dor ! Dor ! Dor !

“Fahri… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.

“Bangun…!”, suara kak Ratna kembali terdengar.

“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Ratna menjauh dari pintu kamarku.
Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !

Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi. Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Ratna yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.

Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Ratna yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Ratna yang belum kering benar jelas terlihat. Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee !”, kataku dalam hati.

“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Ratna menatapku heran.

“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum. Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.

“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Ratna sambil meletakan piring yang dipegangnya.

“Jorokan juga kak Ratna, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !

Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Ratna tengah sarapan ditemani kak Sinta.

“Ikutan Indonesian Idol dong ted !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Sinta. Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.

“Eh, maaf kirain gak ada kak Sinta, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.

Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut. Ah kenapa aku ingin nampak keren. Karena ada kak Sinta yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan. Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.

“Nih buruan, sarapan dulu !”, kak Ratna yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai. Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja.

Sesekali aku menimpali meskipun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin.

“Tumben dihabisin ?”, kata kak Ratna melihat aku makan dengan lahap.

“Abis enak sih !”,

“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,

“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Ratna

“Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Ratna memotong ucapanku. Kak Sinta hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu.

Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Ratna dan kak Sinta. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Ratna. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu.

Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya. Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Ratna.

Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Ratna. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!

Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Ratna membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang.

Bahkan entah berapa kali ketika kak Ratna tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Ratna menjadi objek fantasiku. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Ratna, ketika tidak ada kak Ratna tentunya.

Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Ratna kugenggam erat. Aku terlentang diatas spring bad kak Ratna. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung.

Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Ratna. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah… kak Ratna biasanya pulang jam 6.30, sekarang baru jam 2 siang…. Aman..Ach….shhhh…..

Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga….

Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Ratna Pulang !!!

Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue !

Tak dapat dicegah karena pintu kamar memang tak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar…

“Fahri…! Ngapain kamu ?”, mata kak Ratna menatapku tajam.

“ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat. Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya mengenakan training.

Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Ratna ke atas tempat tidur, celana dalam ka Ratna, langerie kak Ratna, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan!

Kak Ratna menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Ratna pastinya dapat menebak kelakuanku.

“Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Ratna tak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar.

Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka.Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Ratna !

“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding. “Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman. Lalu aku kabur…ketempat kost temanku.

Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku.

Tadinya aku kebingungan juga kelamaan tidak pulang, mau pulang juga rasanya bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Ratna membuat semuanya lebih baik,

“Fahri kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak Ratna di HP ku, datar. “mm ng… dirumah temen kak ?”, kataku sedikit bergetar.

“Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Ratna masih terdengar datar. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. “Iya kak !”, lalu tak terdengar lagi suara kak Ratna. Aku tertegun beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang.

Tiba dirumah, tatapan kak Ratna menyambutku. Aku tak berani menatap wajahnya. “kamu kemana aja ?”, suara kak Ratna masih terdengar datar seperti ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”,

“Makan dulu…tuh kakak udah masak !”, terdengar suara kak Ratna dari ruang tengah. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan, emang gua laperrrr !
Besoknya, suasana masih terasa amat hambar.

Kak Ratna tak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju, kembali keruang makan. Aku dan kak Ratna sarapan seperti biasanya, tapi rasanya suasana betul-betul mencekam.

Kak Ratna nampak buru-buru menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.

“Kak, maafin Fahri yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.

Kak Ratna tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya. Entahlah.

Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Ratna diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani.

Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi. Pantat kak Ratna yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat.

Garis celana dalam yang dikenakanya nampak menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku tak tahan ingin mengecapnya dengan lidahku. Dan…

“Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Ratna membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang tubuhnya.

“Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.

Kak Ratna merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.

“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,

“Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas. “Takut gak abis”, katanya !

“Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku bergerak kesebelah kiri kak Ratna. Kak Ratna segera mereguk minuman yang kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Ratna.

“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Ratna berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Ratna, aku memindah-mindah chanel.

“Kebiasaan Fahri mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan channel ke TransTV.

Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah kak Ratna. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali. Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.

“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.

“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.

“ng…mmmm kenapa Fahri akhir-akhir jadi aneh yah ?”,

“Maksudnya apa ?”,

“Tapi kak Ratna jangan marah yah !”,

“Akhir-akhir ini, Fahri sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja. Gak siang gak malem, pusing deh !”,

“Mikirin apa sih ?”,

“Ah… kak Ratna ini. Maksud Fahri… mmm jangan marah yah. Rasanya Fahri gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Ratna. Lalu ia menghela nafas panjang.

“Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”,

“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.

”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Ratna agak gusar menimpali pertanyaanku.

“Kalau kata temen Fahri sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,

Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata.

“Sebenarnya gara-gara kak Ratna sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Ratna bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.

“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata.

“Kata siapa kamu ?”,

“Kata koran dannnnn… lubang kunci !”,

“Maksud Fahri apa sih…? Kakak jadi pusing !”,

“Fahri tahu rahasia kak Ratna !”,

“Rahasia apa ?”,

“Kak Ratna suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Ratna membeliak kaget. Tatapan matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya.

“Kamu ngintip ?”,

“Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya.

“Tapi tenang aja. Rahasia kak Ratna aman kok ditangan Fahri. Dan rahasia Fahri ada ditangan kak Ratna. Sama-sama aman ok ?!”, Kak Ratna tak bersuara. Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah.

“Meskipun ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Ratna kembali menegang. Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya.

“Kak Sinta… !”, kataku. Kak Ratna benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk. Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Ratna.

“Tenang aja. Fahri gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,

“Fahri tahu semuanya ?”, kata kak Ratna tiba-tiba. Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Aku menganggukan kepala.

“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah. Please !”, kak Ratna mengguncang bahuku.
“Tenang…pokoknya aman !”,

Kak Ratna nampak gelisah. Aku tidak tega melihatnya. Kak Ratna yang sangat baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan menakutkan baginya. Tapi sudahlah.

Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon.

“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.

“Hallo…!”, kataku

“Ini Fahri yah ?, kak Ratna ada ?”, suara itu terdengar lembut.

“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.

“Ini Sinta…kak Ratna-nya ada ?”,

“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.

“Kak… ini kak Sinta !”, kataku pada kak Ratna. Kulihat tiba-tiba expresi kak Ratna menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.

“Haloo..”,

Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.

Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Ratna di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara kak Ratna. Aku terdiam, menunggu. “Fahri…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.

Tanpa kupersilahkan kak Ratna menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Fahri…”, kak Ratna tiba-tiba memecahkan keheningan.

Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.

Kulihat kak Ratna menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diucapkanya. Tak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Ratna. Lalu aku duduk dihadapan kak Ratna. “Fahri bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya.

“Masalah apa ?”,

“Sinta…!”,

“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.

“Jangan sampai Mamah tahu !’,

Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.

“Janji ?!”, kak Ratna menatapku dalam-dalam.

“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.

“Fahri boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,

“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.

“Fahri mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Ratna mencoba bernegosiasi, he he….

“ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada kak Ratna, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Ratna sungguh dinterpretasikan oleh kak Ratna.

“Kakak tahu kok apa yang Fahri inginkan, sini…!”, kak Ratna menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.

“Sini….!”, katanya mengulang.

Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut kak Ratna mengusap punggung tanganku. Lalu ia meraih telapak tanganku. Jemari tanganku digenggamnya.

“Pasti Fahri sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Ratna berkata datar,

“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.

“Pake pura-pura lagi !”, kak Ratna mendorong tubuhku. Karena Kak Ratna mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai.

“Fahri pengen ini kan ?”, jemari kak Ratna merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Ratna tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi.

“Kak…”, kataku lirih

“sst…kakak tahu apa yang Fahri inginkan, tenang aja…”, kak Ratna benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku.

Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu. “Pake malu-malu lagi !”, kak Ratna memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Ratna. “Ah…shhh..kak….!”,

Tanganku perlahan merayap kearah pinggang kak Ratna, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Ratna tak menolak remasan tanganku dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Ratna menghentikan remasan tanganya.

“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.

“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.

“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.

“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.

Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…

Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Ratna, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Ratna agar menjamah kemaluanku. Akhirnya tak urung kak Ratna menuruti kemauanku.
Kembali kuhempaskan tubuh, lalu menunggu kak Ratna melakukan hal yg seharusnya.

Tngan lembut dan halus kak Ratna menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak Ratna mulai meramas kemaluanku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang. Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.

Remasan tangan kak Ratna memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada kak Ratna.
“Apa ini ?”,

Meski terlihat ragu, perlahan kak Ratna meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya,
menumpahkannya ditangan kanannya. Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh..

“Maafin Fahri ya kak !”,

“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya.

“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.

“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,

“Begini…!”,

“Ya…ah… shhh… kak Ratna…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Ratna sungguh membuat aku terlena.

Dan tanpa kuminta kak Ratna telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang kuinginkan. Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.

“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,

Aku terus merintih dan merintih. Kak Ratna benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku. Makin lama makin ngilu.

“kenapa ? udah ?”, kak Ratna bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.

Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Ratna terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kemaluanku dari cairan handbody. Kami terdiam, beberapa saat.

“Tahu enggak sebenarnya Fahri suka pake bantal guling. Seperti Kak Ratna !”,

“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.

“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Ratna !”.

“Dasar !”, ia memelintir kupingku.

“kak Ratna…!”,

‘Apa..?”,

‘Tanggung nih !”,

“Tanggung apanya ?”,

“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,

“Apalagi nih !”,

“Fahri gak tahan nih. Tapi kak Ratna gak usah khawatir. Fahri gak merusak apapun. Kak Ratna tetap berbaju lengkap. Kak Ratna hanya berbaring aja. Nanti Fahri…!”, kak Ratna terdiam tak menjawab.

“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.

“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,

“Berbaring dulu kak Ratna-nya. Pokonya aman deh. Fahri gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Ratna.

Kak Ratna tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang.

Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak.

Lalu aku mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha kak Ratna. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan kak Ratna kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup tubuh kak Ratna yang masih terbungkus Langerie…

”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu kak Ratna. Aku semaki berani karena kak Ratna membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser.

Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Ratna. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan kak Ratna. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak. Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Ratna.

Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, tubuh kak Ratna ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku. Kemaluanku terus menggesek-gesek kemaluan kak Ratna. Dan terus bergoyang-goyang berirama.

“Kurang keatas…sakit tahu !”, suara ka Ratna terdengar memburu.

Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Ratna bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa.

“Pelan…pelan…”, ia mendesis,

“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Ratna terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku.

Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Ratna.

“Mau apa ?”,

“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.

“Please !”, kataku. Akhirnya kak Ratna menurut. Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi kak Ratna. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa.

Kemaluanku mengarah kebawah, terjepit diantara paha kak Ratna. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak Ratna mendesah pelan. Kepalanya mendongak.

Kuulangi gerakan dan gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu. Aku senang mendengar kak Ratna mendesah-desah dan merintih. Kami ternyata berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat.

Aku merasakan semburan nafas hangat kak Ratna. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Ratna awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat.

Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Ratna. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Ratna mendesah dan merintih.

Aku kini benar-benar membuat kak Ratna menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Ratna. Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Ratna. Kemudian Bra yang dikenakannya.

Kini tubuh kak Ratna tak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak Ratna. Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya, semakin kak Ratna merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan.

Tanpa terasa aku mulai menjilati tubuh kak Ratna bagian bawah. Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Ratna merintih dan melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar. Pokonya semakin keras rintihan kak Ratna semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha kak Ratna.

Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan kak Ratna. Meskipun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian kemaluan kak Ratna. Aku bahagia mendengar kak Ratna Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian kak Ratna menarik kepalaku.

“Sudah-sudah ! ngilu !”,

“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?

Nafas kak Ratna tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak Ratna, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh kak Ratna.

“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.

Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara kak Ratna. Kedua tangan kak Ratna membelai-belai rambutku.

Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh kak Ratna. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau…

“Jangan !”, kak Ratna menahan tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu.

“Jangaaaaannn… please ! Fahri jangan !”, kak Ratna memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.

“Fahri udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,

“Tapi Fahri udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Ratna menghiba.

“Fahri udah gak tahannnnnn….shhhh !”,

“Kak Ratna juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”,

Kak Ratna berbisik dengan nafas memburu. Aku tak tahan lagi. Namun kemudian otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas, kenapa sekarang enggak.

Aku ambil celana dalam kak Ratna, lalu kugunakan untuk menutupi kemaluan kak Ratna. “Fahri pengen keluar disini, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.

Karena tak dilarang segera aku memposisikan kemaluanku. Mengarah kebawah dan terjepit paha kak Ratna. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam.

Dan aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku menggesek dan menggesek. Tak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu datang. Cratt cratt…..

Aku terkapar diatas tubuh kak Ratna. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Ratna mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya.

Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Ratna berlama-lama. Tapi kak Ratna buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang basah berlumuran ditinggalkannya !

Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak Ratna “kepengen” (begitulah istilah kak Ratna), maka kami akan melakukannya.

Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta, sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi kak Ratna, aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku. Dan mudah-mudahan akan tetap saperti itu.
Continue Reading | komentar

Popular

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. CERITA 18+ - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger